Senseiipa's Blog
Just another WordPress.com weblog

peran wanita dalam islam

Dikutip dari : PDF
written by topex , Friday, 06 February 2009 14:05E-mail
Peran Wanita Di Dalam Islam

Syariat Islam telah menetapkan, bahwa kedudukan utama wanita adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (ummun wa rabbat al-bait). Karena itu, Syariat Islam telah menetapkan sejumlah hukum yang memang khas dengan fitrah kewanitaannya, seperti kehamilan, kelahiran, pemeliharaan bayi, penyusuan, dan iddah. Syariat Islam juga telah memberikan tanggung jawab kepada wanita terhadap anaknya sejak dini, dimulai dari masa kehamilan, kelahiran, pengasuhan hingga masa penyusuan. Aktivitas ini dapat dikatakan sebagai aktivitas wanita yang paling utama dan mulia, dalam kapasitas kewanitaannya. Mengenai hal itu, Rasulullah Saw bersabda “Wanita yang sedang hamil dan menyusui sampai habis masa menyusuinya seperti pejuang fi sabilillah. Dan jika ia meninggal diantara waktu tersebut, maka sesungguhnya baginya adalah pahala mati syahid” (HR At-Thabrani).Jadi, dapat dikatakan bahwa aktivitas yang paling cocok bagi seorang wanita adalah menjalankan fungsinya sebagai Ibu bagi anak-anaknya dan mengatur rumah tangganya. Bila seorang muslimah menyadari betapa tinggi nilai dan kemuliaan Ibu, niscaya dia tidak akan menukarnya dengan aktivitas lain yang mubah (boleh), seperti bekerja demi karir, sementara kehidupan keluarganya dikorbankan dan hancur. Tentu saja dengan tidak menafikan peranannya sebagai bagian dari masyarakat dimana dia hidup.

Dalam menjalankan fungsinya, seorang wanita juga harus professional, baik dalam kapasitasnya sebagai istri, ibu dari anak-anaknya, maupun sebagai hamba Allah dan bagian dari masyarakatnya. Karena itu, seorang wanita dituntut mempunyai experience (pengalaman) dan skill (keterampilan). Hal ini penting karena fungsi yang akan dia jalankan adalah fungsi yang berupa tanggung jawab yang berat. Kita perlu melihat Ummul Mukminin (istri Rasulullah) dan para sahabat wanita (shahabiyah) yang berhasil menjalankan fungsinya dengan baik. Adalah Khadijah, Aisyah, Ummu Salamah, Asma’ binti Abu Bakar, Sumayyah – Ibu Amar bin yasir – dan al-Khantsa. Mereka dalah wanita-wanita muslimah yang hidup di zaman sahabat dan merupakan generasi yang terbaik. Kesederhanaan mereka, yang dibalut dengan keshalihan tabiat dan amal mereka, telah memancarkan pesona wanita agung sepanjang sejarah. Setumpuk prestasi yang tentu sulit diraih oleh para wanita zaman kita.

Karena itu, agar para wanita bisa mnejalankan fungsinya dengan baik ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1. Wanita sebagai hamba Allah
Sebagai hamba Allah, seorang wanita mempunyai tanggung jawab yang sama dengan kaum pria ; sama-sama berkewajiban untuk mengabdikan diri kepada Allah Swt. Allah berfirman “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah” (QS Adz Dzariat 56).

Dari sini, kita faham bahwa hakikat hidup manusia termasuk didalamnya kaum wanita adalah beribadah kepada Dzat yang layak disembah. Siapa yang paling ikhlas, dalam arti ibadahnya semata-mata untuk Allah, dan paling benar, maka dialah yang akan mendapatkan kedudukan yang paling mulia di sisi Allah (QS Al Mulk 2). Konteks ibadah ini, telah dijelaskan oleh para ulama, bukan saja terbatas pada ritual khusus (ibadah mahdhah), seperti shalat, puasa, zakat, haji dan dzikir, misalnya, tetapi juga meliputi seluruh aktivitas kebajikan yang diridhai Allah Swt termasuk dalam seluruh aspek kehidupan. Dan itu semua bisa diraih melalui keterikatan pada aturan-aturan Allah.

Dalam konteks ibadah khusus, seorang muslimah dituntut untuk mengetahui tata cara shalat yang benar, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Saw. Muslimah juga harus mengetahui tata cara puasa, zakat, haji, dan dzikir yang benar sebagaimana tuntunan Rasul Saw. Disamping itu, seorang muslimah juga harus bisa mengatur seluruh aspek kehidupannya sesuai dengan tuntunan Allah, baik ketika bermuamalah dengan orang, maupun berpakaian dan bergaul di tengah masyarakat ; semuanya harus dilakukan dengan standar Syariat Islam. Inilah manifestasi ubudiyahnya di hadapan Allah Swt, baik dalam konteks ibadah mahdhah maupun ibadah secara umum.

2. Wanita sebagai istri
Sebagai istri, wanita adalah sahabat bagi suaminya. Kepadanya melekat sejumlah kewajiban yang harus dilaksanakan kepada suaminya. Antara lain, seorang istri harus bisa menjaga rahasia suami dan semua yang ada di rumah suaminya. Karena semuanya itu adalah amanah, dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Sabda Rasulullah Saw “seorang wanita adalah pemimpin di rumah tangga suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya itu”.

Sebagai rabbat al-bayt (pengurus rumah tangga), seorang istri juga dituntut memiliki keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan. Bukan hanya keahlian dan keterampilan memasak, menata rumah, menata penampilan, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan dalam masalah kesehatan dan keuangan.

3. Wanita sebagai Ibu
Anak adalah amanah, Karena itu mendidik anak merupakan sebuah kewajiban, bukan pilihan. Rasulullah Saw bersabda “didiklah anakmu dan baguskanlah akhlaknya, dengan mengajarkan kepada mereka olah jiwa, dan memperbaiki akhlak” (HR ad-Dailami).

Ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Darinya, anak pertama kali belajar. Karena itu, ini menuntut seorang Ibu agar ekstra hati-hati, sebab dia mempunyai pengaruh yang besar pada anak-anaknya. Ibu yang baik tentu akan melahirkan generasi yang baik. Maka, pantas jika wanita dinobatkan sebagai tiang Negara. Demikian ungkapan bijak itu, sering kita dengar. Sejumlah penemuan baru tentang perkembangan intelektual dan perilaku anak meniscayakan adanya tanggung jawab yang besar kepada kedua orang tuanya, khususnya ibu. Karena dialah yang paling sering berinteraksi dengan anak-anaknya.

Rumah, sebagai sekolah pertama, anak belajar segalanya kepada ibu dan ayahnya. Karena itu, rumah juga merupakan tempat belajar yang paling baik bagi anak-anak. Disan juga banyak sarana yang bisa dipergunakan dalam pembelajaran anak. Anak juga bisa banyak mempelajari konsep tentang benda, warna, bentuk, dsb. Anak juga bisa mendengar ibunya membaca doa, mengaji dan cerita para nabi dan sahabat dalam suasana yang rileks dan menyenangkan. Disinilah, ibu dan rumahnya merupakan factor pertama yang memberikan kontribusi atas keberhasilan dalam pembelajaran anak. Di rumah, seorang ibu bisa memberikan bacaan islami kepada anak-anaknya, hingga anak-anak itu tumbuh menjadi orang dewasa yang shalih. Harapan yang diidamkan setiap orang tua.

Karena itu, tugas ibu dalam mendidik anak-anaknya adalah tugas yang sangat mulia, berat dan sangat menentukan. Figure ibu juga merupakan figure teladan bagi anak-anaknya. Selain itu, ibu juga merupakan perisai bagi anak-anaknya, yang bisa membentengi mereka dari pengaruh negatif dari luar. Dengan belai kasih sayangnya, karakter anak-anaknya, yang sudah terjalin secara alamiah sejak mengandung, menyusui dan pengasuhan, ibu akan menjadi factor utama yang akan menentukan kepribadian anak-anaknya.

Para ahli berpendapat, bahwa kedekatan fisik dan emosional ini merupakan aspek yang sangat penting bagi keberhasilan pendidikan. Karena itu, kehadiran orang tua – terutama sosok dan figure ibu – dalam perkembangan jiwa anak sangatlah penting. Bila anak kehilangan sosok dan figure ibu, baik figure tersebut hilang secara fisik atau karena fungsi dan peranan yang hilang dalam proses imitasi dan identifikasi anak, maka dalam proses tumbuh berkembangnya anak, mereka akan kehilangan bimbingan, kasih sayang dan perhatian. Akibatnya, anak tersebut akan mengalami deprivasi maternal (perampasan kasih sayang ibu). Kondisi ini akan menyebabkan hubungan kasih sayang antara ibu dan anak terputus. Ini juga akan menyebabkan anak mengalami gangguan yang biasanya disebut Attachment Disorder (gangguan kedisiplinan), atau Failure to Thrive (kegagalan pertumbuhan kejiwaan). Dalam kondisi kejiwaan seperti ini, biasanya anak menunjukkan gejala-gejala yang tidak sehat, seperti murung, tidak ceria, putus asa, dan kehilangan motivasi hidup.

Disinilah peranan ibu sebagai ummun wa rabbat al-bayt membutuhkan pengorbanan kaum wanita dengan sepenuh hati. Bukan setengah-setengah. Semuanya juga harus dilakukan dengan tulus, dan bukan karena terpaksa.

Ketulusan itu tampak dari pengorbanannya yang tinggi demi merawat, mengasuh, dan mendidik anak-anaknya. Meski, dia juga memiliki tanggung jawab lain, yang tidak kalah pentingnya, seperti mengemban dakwah di luar rumah misalnya. Karena itu pula, mengemban dakwah hendaknya tidak dijadikan alasan untuk menutupi kelalaiannya, keterpaksaannya, atau bahkan penyesalannya menjadi ibu bagi anak-anaknya.

4. Wanita sebagai anggota masyarakat
Selain fungsi dan peranan di atas, seorang wanita juga menjadi bagian dari sebuah masyarakat. Dengan begitu, dia juga memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan dan kondisi sosialnya. Posisi ini menuntut peranan seorang wanita, tidak hanya dalam kehidupan privat, tetapi juga kehidupan politik. Ini merupakan bagian yang include dalam tanggung jawab amar ma’ruf nahi munkar. Peranan ini menuntut seorang wanita untuk mampu dan cakap dalam mengambil langkah-langkah praktis yang dibutuhkan dalam melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakatnya.

Karena itu, kaum wanita juga dituntut dalam kiprah dakwah di tengah masyarakat. Kewajiban ini pada akhirnya juga menuntut agar kaum wanita tadi memiliki tsaqafah (pengetahuan) Islam yang memadai, sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakatnya. Pendek kata, selain konsep yang jelas dan memadai, dia juga harus memahami metode dakwah yang benar sesuai dengan tuntutan Rasulullah Saw. [red]

by. euis ratnaningsih

Belum Ada Tanggapan to “peran wanita dalam islam”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: