Senseiipa's Blog
Just another WordPress.com weblog

kompetensi siswa dalam TIK

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Menurut Haag dan Keen (1996) Teknologi Informasi adalah seperangkat alat yang membantu manusia bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi. Menurut Martin (1999)Teknologi Informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi. Menurut Williams dan Sawyer (2003)Teknologi Informasi adalah teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi berkecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video. Teknologi Informasi adalah gabungan antara teknologi komputer dan teknologi telekomunikasi.
Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi di Sekolah Dasar menuntut para pelaku dunia pendidikan untuk lebih respect terhadap masalah teknologi, baik bagi siswa maupun pendidik. Bagi pendidik atau guru khususnya dituntut untuk lebih kreatif menciptakan sesuatu yang lebih inovatif sebagai bahan ajar dan alat bantu untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Kemajuan teknologi tidak dapat dihindari dari kehidupan kita saat ini, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan kemajuan teknologi yang dilalui. Dalam hal pendidikan sebagai calon pendidik kita bisa mengambil dan memanfaatkan banyak hal. Kita mempunyai potensi untuk mengembangkan sekolah-sekolah yang belum tersentuh teknologi sama sekali, dengan bekal dan pengalaman pendidikan.
Selain perkembangan adanya perkembangan TIK, maka dituntut pula kepada pendidik agar memiliki kompetensi-kompetensi yang unggul agar dapat mendayagunakan TIK dalam kehidupan sehari-hari. Selain kompetensi yang harus dimiliki, ada beberapa kualifikasi juga yang menentukan seorang pendidik harus menjadi guru mata pelajaran TIK.
Dalam kurikulum KTSP dimana setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan, penilaian hasil pembelajaran dan pengawasan proses pembelajaran agar dapat terlaksanan secara efektif. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai kompetensi guru Sekolah Dasar yang seharusnya dan diutamakan memiliki basic Teknologi dan Informatika untuk membentuk dan membantu siswa menghadapi perkembangan zaman yang tergerus arus globalisasi ini.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
“ Bagaimana kualifikasi dan kompetensi guru TIK di sekolah dasar dalam perannya meningkatkan tingkat keberhasilan belajar siswa dalam materi Teknologi Informasi implikasi pada bidang study yang lain ?”
C. Tujuan Pembuatan Makalah
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan,maka pembuatan makalah ini bertujuan untuk :
- Untuk memenuhi tugas Ujian Tengah Semester dari Mata Kuliah Dasar Teknologi Informasi dan Komunikasi.
- Untuk mengetahui pengaruh bidang study TIK di Sekolah Dasar dan mengetahui kompetensi apa saja yang harus dimiliki pengajar untuk mengembangkan TIK di Sekolah Dasar ?

D. Manfaat Penulisan Makalah
Berdasarkan tujuan penulisan makalah, maka manfaat dari makalah ini diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Bagi guru, sebagai acuan untuk lebih berkompetensi dan berkreasi sekreatif mungkin dalam peningkatan mutu pembelajaran khususnya dalam bidang study TIK di Sekolah Dasar.
2. Bagi siswa, dapat menumbuhkembangkan kreativitas belajar siswa dalam mempelajari TIK dengan teknik dan cara mengajar guru yang memiliki kompetensi dalam bidang TIK.
3. Bagi sekolah, dapat dijadikan masukan dalam proses pengembangan pembelajaran TIK.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kualifikasi dan Standar Kompetensi Pendidik TIK di Sekolah Dasar
Dengan adanya usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah yang pada khusunya di bidang teknologi telekomuniasi, Media dan Informatika (Telematika)sepertinya sudah ditentukan arah baru untuk disesuaikan dengan pekembangan zaman sehingga munculnya paradigma baru seiring dengan tuntutan dan perkembangan yang akan datang. Salah satu yang mendapat perhatian sangat serius adalah peningkatan kemampuan dan komptensi SDM TI yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan dunia kerja, memerlukan hubungan yang timbal balik antaran penyedia SDM (lembaga Pendidikan dan Pelatihan) dengan dunia Industri yang membutuhkan.
Banyaknya penilaian yang dilakukan oleh para pakar pendidikan (meskipun belum dilakukan penelitian secara cermat) bahwa, penerapan suatu kuriklum baru di Indonesia tidak banyak merubah “perilaku mengajar” para guru dilapangan. Beberapa kali perubahan kurikulum terjadi, nampaknya tidak menunjukkan perubahan yang berarti dalam kesiapan mengajar, strategi pembelajaran dan evaluasi yang digunakan oleh guru. Terlepas dari sarana, prasarana, media, pusat dan sumber belajar sebagai komponen utama dalam proses belajar, sangat menarik untuk dicermati akan kondisi dilapangan terutama tentang pelaksanaan pengajaran mata pelajaran Teknologi informasi dan Komunikasi itu sendiri.
Pada masalah kedua seperti disebutkan diawal diluar konteks insfrastruktur adalah penyediaan tenaga SDM untuk memberikan pengajaran TIK di sekolah-sekolah tersebut. Siapa yang berhak mengajar TIK? Apakah seorang guru Bahasa Indonesia yang sudah familiar menggunakan komputer ? ataukah guru Sains yang sering menggunakan komputer dalam kegiatan PBM nya? Hal ini mungkin boleh saja terjadi namun melihat karakteristik dan model yang sudah ditentukan baiknya yang mengajar TIK di sekolah adalah guru Bidang Study TIK sendiri.
Namun melihat fakta di lapangan tersebut, hal itu terjadi karena kurangnya SDM pendidik untuk bidang study tersebut. Ada beberapa hal yang menyebabkan hal itu bisa terjadi, diantaranya :
1) Sekolah belum mampu untuk membiayai;
2) Mengangkat guru baru tidaklah gampang;
3) Tidak ada rotan akarpun jadi, artinya seorang guru biologi bisa saja mengajar TIK asal mereka mampu, kata mampu tentunya sifatnya kualitatif sepanjang belum ada dasar;
4) Belum ada aturan secara tegas tentang siapa yang berhak mengajar TIK. Sarjana Komputerkah? Sarjana Kependidikan yang memiliki konsentrasi TIK atau Pihak-pihak yang telah bekerjasama dengan sekolah dimintakan bantuan untuk sekaligus menyediakan tenaga untuk mengajar TIK? Atau seseorang yang memiliki pengakuan dengan bukti sertifikat kompetensi TIK?
Guru adalah pekerjaan yang mulia, pahlawan tanpa tanda jasa, patut di gugu dan ditiru. Sebuah profesi belum tentu profesional, namun seorang yang profesional sudah pasti mereka memiliki profesi. Begitu juga dengan profesi sebagai seorang guru (pendidik). Mereka mempunyai dasar hukum yang jelas, kode etik yang pasti, berada dibawah naungan organisasi profesi. Lalu bagaimana dengan guru TIK? Apakah cukup menyandang guru dengan sertifikat pendidik atau guru TIK ada sertifikasi khusus?
UU NO. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan tenaga pendidik adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Sedangkan sebutan Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI GURU garis besar untuk kualifikasi guru Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) disebutkan sebagai berikut:
a) Kualifikasi Akademik Guru
1. Kualifikasi Akademik Guru Melalui Pendidikan Formal, Kualifikasi Akademik Guru SD/MI Guru pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) dalam bidang pendidikan SD/MI (D-IV/S1 PGSD/PGMI) atau psikologi yang diperoleh dari program studi yang terakreditasi.
2. Kualifikasi Akademik Guru Melalui Uji Kelayakan dan Kesetaraan Kualifikasi akademik yang dipersyaratkan untuk dapat diangkat sebagai guru dalam bidang-bidang khusus yang sangat diperlukan tetapi belum dikembangkan di perguruan tinggi dapat diperoleh melalui uji kelayakan dan kesetaraan. Uji kelayakan dan kesetaraan bagi seseorang yang memiliki keahlian tanpa ijazah dilakukan oleh perguruan tinggi yang diberi wewenang untuk melaksanakannya.
b) Standar Kompetensi Guru
1) Mengoperasikan komputer personal dan periferalnya;
2) Merakit, menginstalasi, mensetup, memelihara dan melacak serta memecahkan masalah (troubleshooting) pada komputer personal;
3) Melakukan pemrograman komputer dengan salah satu bahasa pemrograman berorientasi objek;
4) Mengolah kata ( word processing ) dengan komputer personal;
5) Mengolah lembar kerja (spreadsheet) dan grafik dengan komputer personal;
6) Mengelola pangkalan data (data base) dengan komputer personal atau komputer server;
7) Membuat presentasi interaktif yang memenuhi kaidah komunikasi visual dan interpersonal;
8) Membuat media grafis dengan menggunakan perangkat lunak publikasi;
Seorang guru TIK yang ditempatkan di Sekolah Dasar maupun di sekolah lanjutan harus memiliki dan menguasai seluruh kompetensi-kompetensi yang telah dijabarkan di atas. Namun, alangkah lebih baik lagi jika guru memiliki pengetahuan lebih dalam teknologi kemudian diaplikasikan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, sehingga selain murid mendapatkan pengetahuan dari kompetensi-kompetensi dasar yang seharusnya sudah dimiliki oleh guru, murid juga mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak.
Kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku seseorang. Menurut Lefrancois,4 kompetensi merupakan kapasitas untuk melakukan sesuatu, yang dihasilkan dari proses belajar. Selama proses belajar stimulus akan bergabung dengan isi memori dan menyebabkan terjadinya perubahan kapasitas untuk melakukan sesuatu. Apabila individu sukses mempelajari cara melakukan satu pekerjaaan yang kompleks dari sebelumnya, maka pada diri individu tersebut pasti sudah terjadi perubahan kompetensi. Perubahan kompetensi tidak akan tampak apabila selanjutnya tidak ada kepentingan atau kesempatan untuk melakukannya.
Dengan demikian bisa diartikan bahwa kompetensi adalah berlangsung lama yang menyebabkan individu mampu melakukan kinerja tertentu. Kompetensi diartikan oleh Cowell,5 sebagai suatu keterampilan/kemahiran yang bersifat aktif. Kompetensi dikategorikan mulai dari tingkat sederhana atau dasar hingga lebih sulit atau kompleks yang pada gilirannya akan berhubungan dengan proses penyusunan bahan atau pengalaman belajar, yang lazimnya terdiri dari:
1) Penguasan minimal kompetensi dasar,
2) Praktik kompetensi dasar, dan
3) Penambahan penyempurnaan atau pengembangan terhadapkompetensi atau keterampilan.
Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah meliputi: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.
Pada materi TIK yang lebih diutamakan adalah dua kompetensi guru, yaitu kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Kompetensi pedagogik seorang guru ditandai dengan kemampuannya menyelenggarakan proses pembelajaran yang bermutu, serta sikap dan tindakan yang dapat dijadikan teladan. Guru juga perlu memiliki kompetensi profesional yaitu selalu meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Guru sebagai pedagok perlu meningkatkan kompetensinya melalui aktivitas kolaboratif dengan kolega, menjalin kerjasama dengan orang tua, memberdayakan sumber-sumber yang terdapat di masyarakat, melakukan penelitian sederhana. Dalam membelajarkan siswa, menurut Cruicksank, Jenkins, dan Metcalf, guru perlu menguasai pemanfaatan ICT untuk kebutuhan belajarnya.
Kegiatan belajar dan pembelajaran perlu dikelola dengan baik. Menurut Tight mengelola pembelajaran adalah rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada siswa agar dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran dan merupakan sebuah cara dan proses hubungan timbal balik antara siswa dengan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan.
Departemen Pendidikan dan Latihan Australia Barat (Department of Education and Training, Western Australia) menentukan kerangka kompetensi untuk guru dengan menerbitkan Competency Framework For Teachers18. Standar kompetensi guru ditentukan dalam tiga fase yang merupakan suatu kontinuum dalam praktek pembelajaran. Fase tersebut bukan merupakan sesuatu yang dinamik dan bukan merupakan suatu bentuk penjenjangan atau lama waktu bertugas. Misalnya seorang guru yang baru bertugas, mampu mampu menunjukkan kompetensinya dalam bebarapa indikator dalam setiap fase. Berdasarkan hal itu guru tersebut dapat menentukan sendiri kompetensi apa yang belum dikuasai, baik pada fase pertama, kedua maupun ketiga, dan kemudian berusaha untuk dapat melaksanakan kompetensi dengan berbagai cara yang dimungkinkan. Standar kompetensi tersebut ditentukan sebagai berikut :
Fase pertama
1. Melibatkan siswa dalam pengalaman belajar yang bertujuan dan bermakna
2. Memonitor, menilai, merekam dan melaporkan hasil belajar siswa
3. Melakukan refleksi kritis dari pengalaman profesionalnya agar supaya dapat meningkatkan efektivitas profesi.
4. Berpartisi dalam kebijakan kurikulum dan program kerjasama
5. Membangun kemitraan dengan siswa, sejawat, orangtua, dan pihak lain yang membantu
Fase kedua :
1. Memperhatikan gaya belajar dan kebutuhan siswa yang beragam dengan menerapkan berbagai bentuk strategi pembelajaran
2. Menerapkan sistem penilaian dan pelaporan yang komprehensif mengenai pencapaian hasil belajar siswa
3. Membantu berkembangnya masyarakat belajar
4. Memberikan dukungan dalam kebijakan kurikulum dan program kerjasama
5. Membantu belajar siswa melalui kemitraan dan kerjasama dengan dengan warga sekolah
Fase ketiga :
1. Menggunakan strategi dan teknik pembelajaran sesuai kebutuhan individual siswa maupun kelompok secara responsif dan inklusif
2. Menggunakan strategi penilaian dan pelaporan dengan konsisten secara responsif dan inklusif
3. Melibatkan diri dalam berbagai kegiatan belajar profesional yang mendukung berkembangnya masyarakat belajar
4. Menunjukkan kepemimpinan dalam berbagai proses pengembangan sekolah termasuk perencanaan dan kebijakan kurikulum
5. Membangun kerjasama dalam lingkungan komunitas sekolah.
Di Amerika Serikat, masing-masing negara bagian mempunyai ketentuan dalam memberikan lisensi kepada guru baru. Sedangkan untuk guru berpengalaman diterbitkan panduan oleh National Board for Professional Teaching Standards. Panduan ini sifatnya sukarela, tidak ada keharusan bagi negara bagian untuk menggunakan dalam memberikan pengakuan atas kompetensi guru. Panduan tersebut diterbitkan dengan judul What Teachers Should Know and Be Able to Do (apa yang perlu dipahami dan mampu dilaksanakan oleh guru).Proposisi inti tentang kompetensi guru meliputi :
1) Guru mempunyai komitmen terhadap siswa dan belajar mereka
2) Guru menguasai materi yang pelajaran dan cara mengajarnya
3) Guru bertanggung jawab dalam mengelola dan memonitor belajar siswa
4) Guru berpikir secara sistematik mengenai tugasnya dan belajar dari pengalamannya
5) Guru menjadi anggota dari masyarakat belajar.
Siswa perlu keterlibatan fisik untuk mencegah mereka dari kelelahan dan kebosanan. Siswa yang lebih banyak duduk diam akan menghambat perkembangan motorik, akademik, dan kreativitasnya. Selanjutnya, pembelajaran kreatif artinya memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk berkreasi. Peran aktif siswa dalam proses pembelajaran akan menghasilkan generasi yang kreatif, artinya generasi yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan-kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menurut Semiawan, kreativitas adalah suatu kondisi, sikap, atau keadaan yang sangat khusus sifatnya dan hampir tak mungkin dirumuskan secara tuntas.
B. Upaya Peningkatan Mutu dan Kompetensi Pengajar TIK di Sekolah Dasar
Dalam rangka menyesuaikan diri dengan kemajuan IPTEK dan era globalisasi, berbagai upaya telah ditempuh pemerintah untuk mengadakan pembaharuan dan peningkatan mutu pendidikan, yang tercermin dalam berbagai kebijakan. Salah satu kebijakan pemerintah antara lain dalam bentuk pembaharuan atau perubahan kurikulum, yang tentunya menuntut guru dan sekolah untuk lebih aktif dan kreatif mengadakan penyesuaian.
Dalam menanggapi berbagai kebijakan pemerintah itu, hampir semua sekolah merespon secara positif melalui berbagai tindakan, seperti:
a) Mengirim guru untuk mengikuti kegiatan pelatihan, penataran, seminar dan workshop mengenai TIK
b) Mengadakan kegiatan pelatihan dan sosialisasi bagi seluruh guru dengan mendatangkan nara sumber;
c) Mendorong guru untuk melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan sebagaimana ditentukan pemerintah;
d) Melengkapi berbagai sarana dan media yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran;
e) Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan berbagai strategi dan metode, meskipun tidak semua sekolah mampu melaksanakan secara efektif.
Dalam setiap kebijakan pemerintah untuk memajukan pendidikan, selalu diikuti kegiatan sosialisasi dan pelatihan. Namun pengamatan menunjukkan, bahwa berbagai kegiatan tersebut hanya menambah pengetahuan guru dan kurang mampu merubah cara pemikiran apalagi perilaku. Kebanyakan guru masih memiliki pemikiran, bahwa proses pembelajaran adalah sekedar menyampaikan materi pelajaran, sehingga perubahan kurikulum kurang mampu merubah proses pembelajaran. Tidak banyak guru yang memiliki anggapan, bahwa kegiatan pembelajaran adalah untuk mengembangkan potensi siswa.
Usaha Sekolah dalam Peningkatan Kompetensi Guru
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap sekolah telah berupaya untuk meningkatkan kompetensi guru; dengan inisiatif dari guru, kepala sekolah, komite sekolah, MGMP/KKG, pemerintah daerah dan pemerintah pusat serta lembaga swasta.
Pertama, upaya oleh guru berupa melanjutkan tingkat pendidikan, mengikuti berbagai kegiatan MGMP/KKG, pelatihan, penataran, workshop, seminar, dan meningkatkan kinerja. Mayoritas guru SD telah memiliki kualifikasi pendidikan D2- PGSD, dan sebagian telah menyelesaikan S1. Kegiatan melanjutkan studi bagi guru SD ke jenjang D2-PGSD kebanyakan melalui beasiswa pemerintah,sedangkan bagi yang melanjutkan ke jenjang S1 kebanyakan dengan biaya sendiri.
Kedua, upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam membina dan meningkatkan kompetensi guru, antara lain berupa:
a) mengirim guru untuk mengikuti pelatihan, penataran, lokakarya, workshop, dan seminar;
b) mengadakan sosialisasi hasil pelatihan dan berbagai kebijakan pemerintah dengan mendatangkan narasumber;
c) mengadakan pelatihan komputer dan bahasa Inggris;
d) mendorong guru untuk melanjutkan studi agar sesuai dengan tuntutan pemerintah;
e) mengadakan studi banding ke sekolah lain yang dipandang lebih maju;
f) mengirim guru untuk magang ke sekolah lain;
g) melengkapi sarana dan berbagai media penunjang kegiatan pembelajaran;
h) memberikan penghargan bagi guru yang berprestasi;
i) meningkatkan kesejahteraan guru dengan memberikan tambahan pendapatan yang bersumber dari komite sekolah dan orangtua siswa;
j) memberikan keteladanan, dorongan, dan menggugah hati nurani guru agar menyadari akan tugas dan tanggungjawab sebagai guru.
Ketiga, upaya oleh masyarakat. Peran masyarakat yang terwadahi dalam komite sekolah maupun paguyuban kelas berupa penggalangan dana untuk membantu kelancaran proses pembelajaran; seperti pengadaan gedung, peralatan sekolah, dan dana untuk membiayai kegiatan sekolah; termasuk di dalamnya untuk kegiatan pelatihan guru, seminar, lokakarya, dan membantu guru yang melanjutkan studi. Upaya tersebut secara tidak langsung telah menunjukkan peran masyarakat dalam membantu peningkatan kompetensi guru.
Keempat, peran KKG. Pada dasarnya, KKG bagi guru SD, merupakan wadah bagi guru untuk bekerjasama mengatasi berbagai kesulitan dan meningkatkan kompetensi. Namun realitas menunjukkan, KKG kurang berperan sebagaimana mestinya.
Kelima, upaya peningkatan kompetensi guru dari pemerintah daerah dan pusat; antara lain berupa bantuan dana, beasiswa studi lanjut bagi guru, peralatan dan media pembelajaran, serta berbagai kegiatan pembinaan, pelatihan, penataran, dan workshop. Upaya pembinaan bagi guru dilakukan juga oleh kepala sekolah dan pengawas, di mana kepala sekolah lebih berperan daripada pengawas sekolah.
Kegiatan pembinaan bagi guru yang dilakukan oleh lembaga swasta tampak lebih berhasil daripada yang dilakukan pemerintah. Hal ini karena pembinaan yang dilakukan lembaga swasta lebih efektif, yaitu bukan hanya sekedar memberikan pengetahuan, akan tetapi sampai tingkat merubah kinerja guru. Pembinaan dan peningkatan kompetensi guru dilakukan melalui kegiatan pelatihan, yang dipandang lebih efektif apabila dilakukan atas prakarsa dan keinginan guru sendiri. Kondisi pelatihan semacam ini jarang terjadi, karena biasanya dilakukan atas prakarsa atasan (bottom-up). Dalam pelatihan atas prakarsa guru dilandasi kesadaran atas peran dan tanggungjawab serta dorongan untuk meningkatkan kinerja.
Dengan demikian, faktor yang paling dominan dalam upaya peningkatan kompetensi guru adalah komitmen guru dan kepala sekolah. Upaya untuk memajukan pendidikan yang berasal dari pemerintah daerah maupun pusat, masyarakat, atau kepala sekolah; bila tidak didukung oleh komitmen seluruh guru akan kurang membawa hasil secara optimal.
Ada dua faktor yang mempengaruhi tingkat kompetensi guru, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri guru (internal) dan faktor yang berasal dari luar diri guru (eksternal). Faktor internal meliputi:
• tingkat pendidikan;
• keikutsertaan dalam berbagai pelatihan dan kegiatan ilmiah;
• masa kerja dan pengalaman kerja;
• tingkat kesejahteraan; serta
• kesadaran akan kewajiban dan panggilan hati nurani.
Sedangkan faktor eksternal meliputi:
• besar gaji dan tunjangan yang diterima;
• ketersediaan sarana dan media pembelajaran;
• kepemimpinan kepala sekolah;
• kegiatan pembinaan yang dilakukan, dan
• peranserta masyarakat.

C. TIK di Sekolah Dasar
Dalam kegiatan mengelola pembelajaran seorang guru melakukan suatu proses perubahan positif pada tingkah laku siswa yang ditandai dengan berubahnya pengetahuan, pemahaman, sikap, keterampilan, kecakapan dan kompetensi serta aspek lain pada diri siswa, sedangkan perubahan tingkah laku adalah keadaan lebih meningkat dari keterampilan, sikap, pengetahuan, pemahaman dan aspirasi. Pada proses pembelajaran interaktif, perlu diusahakan adanya hubungan timbal balik antara guru dan siswa dan antar siswa sendiri. Proses pembelajaran inspiratif yang diselenggarakan hendaknya dapat mendorong semangat untuk belajar dan timbulnya inspirasi pada peserta didik untuk memunculkan ide baru, mengembangkan inisiatif dan kreativitas. Proses pembelajaran juga diusahakan agar dapat mengarahkan siswa untuk mencari pemecahan masalah, mengembangkan semangat tidak mudah menyerah, melakukan percobaan untuk menjawab keingintahuannya. Proses pembelajaran harus dapat memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, guru perlu mendorong siswa untuk terlibat dalam setiap peristiwa belajar yang sedang dilakukan.
Eric Ashby menyatakan bahwa dunia pendidikan dewasa ini telah memasuki masa revolusi yang kelima. Revolusi yang pertama adalah ketika pendidikan anak diserahkan kepada guru, revolusi kedua ketika digunakannya tulisan untuk membantu keperluan pembelajaran, revolusi ketiga saat ditemukannya mesin cetak yang kemudian materi dapat disajikan melalui media cetak baik buku, majalah, koran dan sebagainya. Revolusi keempat ketika adanya perangkat elektronik untuk pemerataan dan memperluas jaringan pendidikan seperti radio, televisi, dan sebagainya. Kemudian revolusi yang kelima adalah adanya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang canggih khususnya komputer dan internet dan itu dalam konteks untuk dunia pendidikan.
Melihat dari perkembangan yang dikemukakan oleh Ashby atas dasar kemajuan dunia teknologi, seorang guru TIK untuk sekolah dasar setidaknya harus menguasai beberapa kompetensi dasar yang telah ditentukan tadi. Adapun yang menjadi hal-hal pokok dan materi yang harus diberikan di sekolah dasar diantaranya adalah :
1. Fungsi menu dan ikon aplikasi pengolah gambar
• Mempraktikkan cara mengatur bidang gambar
• Memodifikasi pengaturan bidang gambar
• Mempraktikkan cara membuat gambar bebas
• Mempraktikkan cara menyalin gambar
• Mendemonstrasikan penggunaan ikon pencil dan copy
• Mempraktikkan cara memberikan efek Flip and Rotate
• Mendemonstrasikan pemberian efek Flip and Rotate
• Mempraktikkan cara membuat garis lengkung
• Mendemonstrasikan penggunaan ikon Curve
• Mempraktikkan cara memberikan efek Stretch and Skew
• Mendemonstrasikan pemberian efek Stretch and Skew
2. Membuat dokumen aplikasi pengolah gambar dan pengolah kata
• Membuat gambar di Paint dengan tema ulang tahun
• Membuat gambar
• Membuat teks di pengolah kata WordPad
• Mendemonstrasikan pembuatan teks dengan bantuan pengolah kata sederhana
• Membuat macam model gambar dengan variasi teks
• Mendemonstasikan cara cut dan paste dari pengolah gambar ke pengolah kata
• Membuat teks dengan tema Peristiwa di pengolah kata WordPad
• Mendemonstrasikan pembuatan teks dengan bantuan pengolah kata sederhana
• Menyisipkan gambar
• Mendemonstrasikan cara cut dan paste gambar
• Pengolah gambar ke pengolah kata
3. Sekilas Internet
• Membuat skenario
• Mendemonstrasikan pembuatan skenario dari suatu situs di Internet
4. Gambar kreatif
• Membuat gambar dengan menggabungkan berbagai ikon dan efek
• Membuat beberapa gambar kreatif
5. Sekilas Internet
• Menggali informasi dengan tema Bersih itu sehat
• Menggunakan Internet sebagai media belajar
6. Menu dan ikon aplikasi perangkat lunak penerbitan
• Menyimak penjelasan tentang penerbitan
• Mendiskusikan fungsi menu dan ikon
• Menunjukkan menu dan ikon
• Menjelaskan pengertian dari penerbitan
• Mengenalkan MS Publisher sebagai perangkat lunak penerbitan
• Menerangkan fungsi menu dan ikon yang terdapat dalam perangkat lunak penerbitan
• Mengidentifikasi menu dan ikon yang terdapat dalam perangkat lunak penerbitan
7. Karya penerbitan
• Membuat kartu ucapan ulang tahun
• Membuat kartu ucapan
• Membuat papan pengumuman atau papan petunjuk
• Membuat Sign
• Membuat iklan
Dari hasil belajar siswa tersebut, alangkah lebih baik apabila hasil karya siswa tersebut dibuat dalam bentuk print out untuk kemudian dipajang dan diperlihatkan di majalah dinding sekolah atau di kelas, sehingga siswa dapat mereview hasil kerja mereka. Hal ini dapat memacu siswa untuk belajar lebih baik dan meningkatkan hasil karyanya, agar hasil yang dipajang selanjutnya lebih baik dari hari ke hari.
Dalam beberapa karya yang dipajang diantaranya, misal :

Konsep Multimedia : Multimedia is the combination of the following elements: text, color, graphics, animations, audio, and video. Pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafik, audio, gambar bergerak (video dan animasi) dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakai untuk melakukan navigasi, berinteraksi, berkreasi dan berkomunikasi (Hofstteter, 2001).
Internet sebagai Media Pembelajaran
Selain dalam bentuk print out, guru juga dapat menampilkan langsung di internet, baik dalam blog milik guru TIK yang bersangkutan ataupun website. Maka dari itu, guru TIK seharusnya mempunyai milisgroup atau jaringan tersendiri khusus untuk memuat hasil karya siswa dan membuka forum untuk umum bahkan bagi siswa sekolah dasar-pun untuk berdiskusi secara online mengenai hasil karya yang telah dibuat atau mengenai materi yang belum dipahami.
Penggunaan Internet untuk keperluan pendidikan yang semakin meluas terutama di negara-negara maju, merupakan fakta yang menunjukkan bahwa dengan media ini memang dimungkinkan diselenggarakannya proses belajar mengajar yang lebih efektif. Hal itu terjadi karena dengan sifat dan karakteristik Internet yang cukup khas, sehingga diharapkan bisa digunakan sebagai media pembelajaran sebagaimana media lain telah dipergunakan sebelumnya seperti radio, televisi, CD-ROM Interkatif dan lain-lain.
Berbagai jenis informasi yang terdapat di internet dapat membantu siswa untuk menambah pengetahuan dan pengalaman. Guru harus bisa menjelaskan pengertian, fungsi dan kegunaan internet, serta hal-hal apa saja yang bisa diketahui dari internet.
Sebagai bahan pekerjaan bagi siswa dalam contoh penggunaan internet, guru bisa membantu siswa mencari data-data yang bersifat sederhana. Misalnya mencari data mengenai kehidupan sehari-hari dengan tema “Pentingnya Hidup Bersih” di internet. Tunjukkan kepada siswa bahwa begitu banyak hal, data, dan informasi (audio, visual, audio visual) yang terdapat di internet.
D. Kontribusi TIK terhadap Bidang Study lain dalam Kegiatan Pembelajaran
Saat ini budaya akses internet hingga tingkat kepemilikan sebuah flaskdisk mulai tumbuh pesat. Indikator mulai tumbuhnya budaya ICT dikalangan guru-guru misalnya dapat dipancing melalui obrolan ringan dan lugu di mana beberapa guru yang sudah berusia sekitar 50 tahunan menanyakan pengalamannya melakukan hosting dan Browshing, atau chatting, di mana istilah-istilah ini biasa kita dengar dikalangan mahasiswa reguler usia 16-27 tahun. Kebiasaan-kebiasaan baru inilah dapat diyakini bahwa budaya baru yaitu “Budaya ICT” di kalangan guru sekolah dasar akan terbangun. Jika budaya sudah terbangun maka karakter individu gurupun akan terbentuk dengan sendirinya. Maka inilah yang diharapkan oleh semua pihak.
Pendataan terhadap pemanfaatan dan pendayagunaan media pendidikan berbasik TIK serta evaluasi terhadap hasil pelatihan tahun sebelumnya, diperoleh bahwa masih banyak guru, terutama pada tingkat SD dan SMP yang belum memiliki kompetensi dibidang TIK. Pemanfaatan dan pendayagunaan media komputer sebagai sumber belajar dan media pembelajaran di sekolah masih belum optimal.
Dengan mengenal kemampuan siswa, guru dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga siswa tersebut belajar secara optimal. Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam pembelajaran. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang diapajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Benda yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat siswa merasa senang dalam belajar.
Pembelajaran TIK manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh Guru TIK saja, namun dengan berkembangnya TI dapat diaplikasikan kedalam bidang study lain. Misalnya pada pelajaran sains akan lebih mudah dan menarik apabila pembelajarannya menggunakan media elektronik, misalnya dengan menggunakan in focus ketika mempelajari materi Pernapasan manusia, siswa hanya perlu memperhatikan tayangan gambar atau video. Diyakini hal itu akan membuat siswa lebih betah belajar di kelas karena siswa menjadi lebih tertarik.
Atau dalam pelajaran Bahasa Indonesia, misalnya ketika belajar mengarang atau menulis puisi, siswa disuruh untuk menulis karangan bebas, kemudian hasil karya para siswa itu dikumpulkan, lalu di scann (jika belum paham sebaiknya proses scanning diserahkan kepada guru TIK) yang kemudian akan mudah bagi guru untuk menampilkan karya siswa di internet. Jika guru bidang study lain belum mengenal betul mengenai TIK, maka merupakan kewajiban guru TIK untuk mengajarkan dan memberi tahu bagaimana penggunaan TIK di Sekolah Dasar meskipun hanya garis besarnya saja. Namun setidaknya ini akan menambah pengalaman bagi guru lain dan memacu untuk lebih banyak belajar mengenai kemajuan tekhnologi.
Dalam pelajaran matematika pun TIK dapat diaplikasikan, misalnya pengenalan bangun-bangun datar, bangun 2 dimensi atau 3 dimensi, atau rumus-rumus, soal cerita, dan sebagainya. Ditampilkan dengan visualisasi yang unik sesuai dengan kreatifitas sang guru.

BAB III
KESIMPULAN
Perlu adanya usaha khusus untuk penguasaan atas kompetensi pedagogik dan profesiona seorang guru. Studi banding, pemagangan dan pelatihan terapan merupakan usaha yang sering terungkap. Untuk itu semua diperlukan adanya dedikasi dan komitmen untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dari para guru.
Secara administratif apa yang direncanakan oleh guru sudah sesuai dengan ketentuan yang ada, tetapi pelaksanaan di kelas tidak sesuai dengan rencana. Maka dari itu sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan, guru yang telah memenuhi kualifikasi sebagai pengajar harus menjalankan tugasnya secara profesional sehingga memberikan kontribusi bagi kemajuan sekolah.
Masih rendahnya penguasaan atas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK),dan kurangnya perhatian atas ketersediaan sarana dan prasarana TIK yang diperlukan. Hal ini belum sejalan dengan rencana pemerintah untuk dimanfaatkannya TIK dalam peningkatan mutu pendidikan.
Oleh sebab itu, dalam proses pendidikan, guru tidak hanya menjalankan fungsi alih ilmu pengetahuan, tetapi juga berfungsi untuk menanamkan nilai serta membangun karakter peserta didik secara berkelanjutan.

Belum Ada Tanggapan to “kompetensi siswa dalam TIK”

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: